Oleh Muhammad Adi Riswan Al Mubarak
Ada satu nilai yang kalau kita jaga, hidup jadi tenang, hubungan jadi kuat, dan hati jadi terang, jujur. Kelihatannya sederhana. Tapi justru di situlah tantangannya, karena justru hal sederhana itulah yang sering diabaikan.
Dalam Islam, jujur bukan sekadar kebaikan akhlak. Ia adalah tanda iman. Rasulullah SAW dikenal dengan gelar Al Amin (yang terpercaya) bahkan sebelum beliau diangkat menjadi Nabi. Itu menunjukkan bahwa kejujuran adalah fondasi utama dalam menjadi pribadi yang layak dipercaya, baik oleh manusia maupun oleh Allah.
Setiap kita pasti pernah diuji dengan pilihan jujur dan menanggung risiko, atau berdusta untuk menyelamatkan diri. Tapi apa yang sebenarnya kita selamatkan kalau harus mengorbankan hati nurani?
Dusta, sekuat apa pun disembunyikan, akan selalu menyisakan bekas di hati kita, dalam hubungan kita, dan yang paling dalam, pada catatan amal kita di sisi Allah.
Terutama ketika kita diberikan amanah. Entah itu amanah uang, barang, jabatan, atau bahkan sekadar pesan dari orang lain, itu semua adalah ujian kejujuran. Karena amanah bukan hanya soal tanggung jawab kepada manusia, tapi juga tanggung jawab kepada Yang Maha Mengamanahkan.
Sering kali, orang merasa aman berdusta karena tak ada yang melihat. Tapi orang beriman yakin, meski dunia tak tahu, Allah selalu mencatat. Kalau kita diberi kepercayaan, lalu kita rusak dengan dusta, itu bukan cuma merusak kepercayaan orang itu juga bisa memutus rahmat Allah.
Orang jujur itu memang mungkin tak selalu mudah hidupnya. Tapi hatinya lapang, wajahnya terang dan yang lebih penting, ia tidak perlu berpura-pura di hadapan Allah dan manusia. Sebaliknya, pendusta hidup dalam bayang-bayang. Satu kebohongan harus ditutupi dengan kebohongan lain, dusta atau bohong bagaikan candu, dia selalu memanggil untuk dusta-dusta berikutnya. Sampai akhirnya ia tenggelam dalam jaring yang ia anyam sendiri.
Islam sangat tegas soal ini. Rasulullah SAW menyebut, salah satu tanda orang munafik adalah apabila berkata, ia berdusta; apabila dipercaya, ia khianat.
Bayangkan, dusta disejajarkan dengan munafik suatu sifat yang tempatnya nanti bukan main-main dasar neraka.
Maka mari kita jaga lisan ini, jaga hati ini. Jaga amanah yang dipercayakan kepada kita, meski kecil dan tak terlihat. Karena dalam pandangan Allah, tidak ada yang kecil dari perbuatan manusia. Semuanya akan diminta pertanggungjawaban.
Jika hari ini kita terbiasa jujur dalam perkara ringan, insya Allah kita akan kuat menjaga kejujuran dalam perkara besar. Dan kalau hari ini kita masih mudah berdusta demi kenyamanan sesaat, minta ampunlah. Perbaiki. Karena hidup terlalu singkat untuk diisi dengan kebohongan. Dan akhirat terlalu berat untuk dipertaruhkan demi kedustaan.
Jujur itu cahaya. Dusta itu luka.
Pilihlah cahaya, agar kita berjalan di dunia dengan hati tenang, dan kelak kembali kepada Allah dengan wajah bersinar.
Wallahu a’lam.
*Kepala Bagian Promosi dan Komunikasi Publik BAZNAS Kalsel